Sejarah sebagai Cara Berfikir

Penulis: 
Dr. Ahmad Taufik Hidayat, M. Ag.

Sejarah seringkali disamakan dengan cerita (story), atau cara bercerita (how to tell the story), tetapi bukan sebagai ilmu terapan yang objektif. Padahal, dengan segenap perangkat metodologi yang harus dijalankan dalam ilmu sejarah, terutama hal-hal teknis seperti bagaimana mengklasifikasi sumber sebagai alat petunjuk, menyaring informasi lisan, memastikan viabilitas sumber agar representatif untuk dinarasikan, menilai dan memberi pemaknaan terhadap sumber dan menyusunnya dalam kerangka penulisan sejarah, entah itu bersifat periodik dalam berbagai perspektifnya, ataupun dalam kerangka penulisan total history, pada dasarnya sejarah dapat dijadikan alat analisis objektif bagi berbagai disiplin keilmuan.

Suatu hal yang sering tidak disadari selama ini, bahwa untuk kepentingan eksplanasi dan eksplorasi data, berbagai disiplin ilmu lain, telah menggunakan alat-alat sejarah untuk membangun argumentasi ilmiahnya, sehingga munculah statistik, grafik, pemetaan dan sebagainya. Keterlibatannya dalam sejumlah disiplin keilmuan, juga tanpa disadari menyangkut akar-akar persoalan, ketika berhubungan dengan upaya penjelasan the underlying of historical forces, atau mendudukan sebuah konteks bagi berbagai fenomena ilmiah, sebuah faktor historis yang mendasar, yang mendorong terjadinya sesuatu gejala dalam masyarakat dalam hal apa saja. Menempatkan sebuah kajian dalam frame (bingkai) yang tepat, sehingga latar belakang dari sebuah peristiwa, perkataan, prilaku dan berbagai fenomena faktual dapat diterima secara logis.

Fakta, sebagai sebuah data ilmiyah, tidak sulit untuk dijelaskan. Tetapi, how to explain, bagaimana menjelaskan sebuah fakta ilmiyah bisa terjadi adalah urusan keberhasilan menempatkan fakta tersebut dalam konteks yang relevan. Dalam hal inilah sejarah sebagai kerangka berfikir perlu dimiliki oleh berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Dari sini akan lahir pemikiran misalnya, bahwa sebuah perkataan tidak mungkin atau malah tidak pernah bisa dilepaskan dari apa yang disebut sebagai sub-text, maupun pre-text. Dimensi keduanya erat dengan pemilihan yang kritis dan objektif terhadap konteks yang tepat, dan sumber-sumber yang saling terhubung dengan ruang waktu dan kondisi dimana perkataan itu lahir, sehingga tidak terjadi gagal faham dalam memberikan penilaian. Penilaian terhadap fakta, bagi ilmu sejarah, bukanlah hal yang sederhana, menyangkut hitam-putih, baik-buruk, benar-salah, tetapi menempatkan sebuah fakta pada dimensi ruang dan waktu yang sesuai.       

Add new comment